-->
INILAH LIST SIARAN ARDA TV
Toko Sosmed
EBOOK: KESLING, MOTIVASI & PENGEMBANGAN DIRI
WWW.ARDADINATA.COM WWW.ARDADINATA.COM

Daftar Artikel


PUASA DAN KEUTAMAAN RAMADHAN
Lihat Detail

PUASA DAN KEUTAMAAN RAMADHAN

Ramadhan adalah bulan yang paling utama. Allah mewajibkan puasa di bulan itu atas kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman : ” Hai orang-orang yang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(Al Baqarah 183)

Di dalam bulan Ramadhan Allah menurunkan Kitab-Nya dan menjadikan salah satu malamnya sebagai Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan dan seribu bulan lebih banyak dari 83 tahun. Maka renungkanlah dalam dirimu malam apakah ini yang di sisi Allah lebih baik dan lebih utama daripada masa yang panjang ini. Allah Ta’alaa Berfirman : “Bulan Ramadhan, yaitu bulan yang di dalamnya di turunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Al Baqarah 185). Kemudian Allah SWT menurunkan Surah Al Qadr.





ILMU MENJADI KAYA
3 JURUS Ampuh Menghasilkan UANG MELIMPAH Dari Internet. Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.




RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income 5 Jt/Bln? Ayo Gabung di Penulis Sukses MIQRA INDONESIA


INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA


Maka Allah SWT memberitahu kita bahwa Dia menurunkan Al Qur’an di bulan Ramadhan dan di malam Qadar secara khusus. Penurunan ini berasal dari Al Lauhil Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit terdekat. Al Qur’an turun sekaligus dari Al Lauh ke Baitul Izzah dan di turunkan oleh Jibril dengan perintah Allah kepada Rasul Nya secara berangsur-angsur selama kira-kira 23 tahun. Itu adalah masa turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW, karena Allah mulai menurunkan wahyu kepadanya ketika Beliau berumur 40 tahun dan wafat pada usia 63 tahun. Demikianlah yang di katakan oleh para peneliti dari ulama salaf dan khalaf.

Rasulullah Saw bersabda mengenai keutamaan bulan Ramadhan, “Bulan Ramadhan hingga Ramadhan, hari jum’at hingga jum’at dan shalat yang satu hingga shalat yang lain adalah menghapus dosa-dosa di antara semua itu apabila dosa-dosa besar di jauhi.”

Ramadhan adalah bulan kesabaran dan pahala kesabaran adalah surga. Nabi SAW Bersabda, “Permulaannya adalah rahmat, tengahnya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” Dan Allah Ta’ala pada malam pertama darinya melihat kepada kaum muslimin dan siapa yang Allah melihat kepadanya, maka Dia tidak menyiksanya dan Dia mengampuni mereka pada malamnya yang terakhir.

Jibril A.s berkata kepada Rasulullah SAW, “Barangsiapa mendapati Ramadhan, namun dosanya tidak di ampuni, semoga Allah menjauhkannya. Katakanlah, Amin. Maka Rasulullah SAW menjawab Amin. Hal tersebut di sebabkan kemudahan sebab-sebab ampunan di bulan Ramadhan lebih banyak daripada di bulan-bulan lainnya.

Ampunan di bulan itu di haramkan karena keberpalingannya dari Allah menjadi besar dan begitu pula keberaniannya terhadap Allah hingga menyebabkan kejauhan dan pengusiran dari pintu Rahmat Allah. Kita mohon kepada Allah kesalamatan dari murka dan siksa Nya serta semua cobaan Nya.

Telah di riwayatkan bahwa pintu-pintu langit dan pintu syurga di buka semuanya di bulan Ramadhan, sedangkan pintu-pintu neraka di tutup dan setan-setan pembangkang di ikat dan mereka di buang ke laut supaya tidak merusak puasa dan shalat kaum muslimin.

Malaikat berseru setiap malam di bulan Ramadhan, “Hai pencari kebaikan, datanglah. Hai pencari kejelekan, berhentilah.” Di riwayatkan pula bahwa siapa yang mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan dengan amalan fardlu, maka amalan itu menyamai 70 amalan fardlu di bulan lainnya. Dan siapa yang mendekatkan diri di bulan itu dengan amalan nafilah, maka amalan itu menyamai amalan-amalan fardu yang di lakukannya di bulan lain dari segi pahalanya, sedangkan amalan-amalan fardunya di beri pahala berlipat kali hingga 70 kali daripada amalan fardu di bulan lainnya.

Nabi SAW Bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan mengerjakan shalat malam di bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka di ampunilah dosanya yang terdahulu.”

ADAB-ADAB AGAR PUASA RAMADHAN MENJADI SEMPURNA
Orang yang puasa mempunyai adab-adab yang puasanya tidak menjadi sempurna, kecuali dengan adanya adab-adab itu. Yang terpenting darinya ialah menjaga lidahnya dari dusta dan ghibah serta membicarakan sesuatu yang tidak perlu baginya. Ia Jaga kedua mata dan telinganya dari mendengarkan dan memandang sesuatu yang tidak halal baginya serta sesuatu yang di anggap berlebihan. Begitu pula ia jaga dirinya dari memakan makanan haram dan syubhat, khususnya ketika berbuka puasa. Ia berusaha dengan sangat hati-hati untuk tidak berbuka puasa, kecuali dengan memakan makanan halal.

 Seorang ulama Salaf berkata, Apabila engkau puasa, lihatlah makanan apa yang engkau makan ketika berbuka dan di tempat siapa engkau berbuka. Hal itu merupakan dorongan agar berhati-hati mengenai makanan untuk berbuka puasa. Begitu pula orang yang puasa harus menjaga semua anggota tubuhnya dari perbuatan yang tidak perlu. Dengan itu puasanya menjadi Sempurna dan Bersih. Banyak orang yang puasa memayahkan dirinya dengan lapar dan haus, namun ha biarkan anggota tubuhnya berbuat maksiat sehingga merusakkan puasanya dan menyia-nyiakan kepayahannya. Nabi SAW bersabda, “Banyak orang yang puasa tetapi puasanya hanya menghasilkan lapar dan haus.”

Meninggalkan maksiat adalah wajib untuk selamanya atas orang yang puasa maupun yang tidak puasa. Akan tetapi orang yang puasa lebih utama untuk berhati-hati dan lebih wajib. Nabi SAW bersabda, “Puasa itu perisai. Maka paha hari kamu berpuasa, jangalah ia berkata keji dan jangan berbuat kefasikan serta jangan mengganggu orang lain. Jika ada orang memakinya atau memusuhinya, maka katakanlah, sesungguhnya aku puasa.

Termasuk adab orang yang puasa ialah tidak banyak tidur di siang hari dan tidak banyak makan di waktu malam. Hendaklah ia makan sekadarnya sehingga ia rasakan sentuhan lapar dan haus supaya jiwanya menjadi baik dan syahwatnya menjadi lemah serta hatinya menjadi terang. Itu rahasia puasa dan tujuannya.

Hendaklah orang yang puasa menjauhi kesejahteraan dan kesenangan syahwat serta kenikmatan yang banyak. Sedikit-dikitnya adalah kebiasaan bersenang-senang itu hanya sekali di bulan Ramadhan dan lainnya. Ini adalah sedikit-dikitnya yang patut. Akan tetapi latihan dan menjauhi keinginan nafsu menimbulkan pengaruh besar dalam menerangi hati dan secara khusus di tuntut di bulan Ramadhan.

Adapun orang -orang yang menjadikan bersenang-senang dan hidup mewah di bulan Ramadhan yang tidak biasa mereka lakukan di luar Ramadhan, maka hal itu merupakan tipu daya setan yang menipu mereka supaya mereka tidak merasakan keberkahan puasa mereka. Dan supaya tidak nampak pada mereka pengaruh nya berupa cahaya, mukaasyafat, sikap khusyu’ kepada Allah dan tunduk di hadapan Nya menikmati munjat dengan Nya dan pembacaan KitabNya serta Dzikir Nya.

Kebiasaan salaf -Rahimahumullah- adalah mengurangi kebiasaan dan kesenangan nafsu serta memperbanyak amal baik di bulan Ramadhan secara khusus, meskipun hal itu sudah di kenal dari perilaku mereka dalam seluruh waktu.

Termasuk adabnya pula, ialah tidak terlalu banyak mengurusi dunia di bulan Ramadhan, tetapi mengkhususkan diri untuk beribadah kepada Allah dan menyebut Nama Nya sedapat mungkin. Janganlah ia mengurusi dunia kecuali bila sangat mendesak bagi kebutuhannya atau anak-anak yang wajib di urusinya. Hal itu di sebabkan bulan Ramdhan di antara bulan-bulan lain seperti kedudukan Jum’at di antara hari-hari. Oleh karena itu orang mu’min harus menjadikan hari Jum’at dan bulannya ini untuk akhiratnya.

Termasuk sunnah adalah menyegerakan buka puasa dan berbuka dengan kurma. Jika tidak menemukannya, maka ia berbuka dengan air. Adalah Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam berbuka sebelum shalat Magrib. Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam bersabda, “Umatku selalu dalam kebaikan selama menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur.” Maka mengakhirkan sahur adalah sunnah pula.

Orang yang puasa hendaknya makan sedikit. Hal itu di maksudkan supaya nampak pengaruh puasa padanya dan ia pun bisa mendapat hikmah nya dan mencapai tujuannya, yaitu mendidik nafsu dan melemahkan keinginannya. Karena rasa lapar dan kekosongan perut, berpengaruh besar dalam menerangi hati dan kekuatan anggota badan dalam beribadah, sedangkan kekenyangan adalah penyebab kekerasan hati dan kelalaian serta kemalasan untuk melakukan ketaatan.

Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika ia tidak bisa menghindarinya, maka sepertiga perut itu untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.”

Seorang Arif berkata, “Apabila perut menjadi kenyang maka semua anggota tubuh menjadi lapar. Dan apabila perut menjadi lapar, maka semua anggota tubuh menjadi kenyang.”

Dianjurkan dengan sangat memberi makan orang-orang yang puasa, walaupun hanya beberapa butir kurma atau seteguk air. Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa memberi makan orang puasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang puasa itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” Pahala ini bisa di peroleh orang yang memberi makan buka puasa, walaupun hanya air. Adapun orang yang memberi makan orang puasa sesudah berbuka puasa di rumahnya atau di tempat lain, maka ia tidak mendapat pahala ini. Tetapi mendapat pahala memberi makan, dan pahalanya besar. Bagaimanapun juga memberi makan orang yang puasa hingga kenyang adalah perbuatan yang mendapat banyak pahala.

Wallahu A’laam…

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk mencapai kemudahan dan menjauhkan kita dari segala kesulitan serta mengampuni dosa-dosa kita di akhirat dan dunia bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang besar derajat dan kedudukannya di sisi Allah dan Rasul-Nya.

(Di Kutip Dari Kitab Nashaaihud-Diniyyah wal Washaayal-Imaaniyyah, Karya Habib Abdullah Bin Alwi Al Haddad)
Ramadhan adalah bulan yang paling utama. Allah mewajibkan puasa di bulan itu atas kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman : ” Hai orang-orang yang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(Al Baqarah 183)

Di dalam bulan Ramadhan Allah menurunkan Kitab-Nya dan menjadikan salah satu malamnya sebagai Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan dan seribu bulan lebih banyak dari 83 tahun. Maka renungkanlah dalam dirimu malam apakah ini yang di sisi Allah lebih baik dan lebih utama daripada masa yang panjang ini. Allah Ta’alaa Berfirman : “Bulan Ramadhan, yaitu bulan yang di dalamnya di turunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Al Baqarah 185). Kemudian Allah SWT menurunkan Surah Al Qadr.





ILMU MENJADI KAYA
3 JURUS Ampuh Menghasilkan UANG MELIMPAH Dari Internet. Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.




RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income 5 Jt/Bln? Ayo Gabung di Penulis Sukses MIQRA INDONESIA


INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA


Maka Allah SWT memberitahu kita bahwa Dia menurunkan Al Qur’an di bulan Ramadhan dan di malam Qadar secara khusus. Penurunan ini berasal dari Al Lauhil Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit terdekat. Al Qur’an turun sekaligus dari Al Lauh ke Baitul Izzah dan di turunkan oleh Jibril dengan perintah Allah kepada Rasul Nya secara berangsur-angsur selama kira-kira 23 tahun. Itu adalah masa turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW, karena Allah mulai menurunkan wahyu kepadanya ketika Beliau berumur 40 tahun dan wafat pada usia 63 tahun. Demikianlah yang di katakan oleh para peneliti dari ulama salaf dan khalaf.

Rasulullah Saw bersabda mengenai keutamaan bulan Ramadhan, “Bulan Ramadhan hingga Ramadhan, hari jum’at hingga jum’at dan shalat yang satu hingga shalat yang lain adalah menghapus dosa-dosa di antara semua itu apabila dosa-dosa besar di jauhi.”

Ramadhan adalah bulan kesabaran dan pahala kesabaran adalah surga. Nabi SAW Bersabda, “Permulaannya adalah rahmat, tengahnya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” Dan Allah Ta’ala pada malam pertama darinya melihat kepada kaum muslimin dan siapa yang Allah melihat kepadanya, maka Dia tidak menyiksanya dan Dia mengampuni mereka pada malamnya yang terakhir.

Jibril A.s berkata kepada Rasulullah SAW, “Barangsiapa mendapati Ramadhan, namun dosanya tidak di ampuni, semoga Allah menjauhkannya. Katakanlah, Amin. Maka Rasulullah SAW menjawab Amin. Hal tersebut di sebabkan kemudahan sebab-sebab ampunan di bulan Ramadhan lebih banyak daripada di bulan-bulan lainnya.

Ampunan di bulan itu di haramkan karena keberpalingannya dari Allah menjadi besar dan begitu pula keberaniannya terhadap Allah hingga menyebabkan kejauhan dan pengusiran dari pintu Rahmat Allah. Kita mohon kepada Allah kesalamatan dari murka dan siksa Nya serta semua cobaan Nya.

Telah di riwayatkan bahwa pintu-pintu langit dan pintu syurga di buka semuanya di bulan Ramadhan, sedangkan pintu-pintu neraka di tutup dan setan-setan pembangkang di ikat dan mereka di buang ke laut supaya tidak merusak puasa dan shalat kaum muslimin.

Malaikat berseru setiap malam di bulan Ramadhan, “Hai pencari kebaikan, datanglah. Hai pencari kejelekan, berhentilah.” Di riwayatkan pula bahwa siapa yang mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan dengan amalan fardlu, maka amalan itu menyamai 70 amalan fardlu di bulan lainnya. Dan siapa yang mendekatkan diri di bulan itu dengan amalan nafilah, maka amalan itu menyamai amalan-amalan fardu yang di lakukannya di bulan lain dari segi pahalanya, sedangkan amalan-amalan fardunya di beri pahala berlipat kali hingga 70 kali daripada amalan fardu di bulan lainnya.

Nabi SAW Bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan mengerjakan shalat malam di bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka di ampunilah dosanya yang terdahulu.”

ADAB-ADAB AGAR PUASA RAMADHAN MENJADI SEMPURNA
Orang yang puasa mempunyai adab-adab yang puasanya tidak menjadi sempurna, kecuali dengan adanya adab-adab itu. Yang terpenting darinya ialah menjaga lidahnya dari dusta dan ghibah serta membicarakan sesuatu yang tidak perlu baginya. Ia Jaga kedua mata dan telinganya dari mendengarkan dan memandang sesuatu yang tidak halal baginya serta sesuatu yang di anggap berlebihan. Begitu pula ia jaga dirinya dari memakan makanan haram dan syubhat, khususnya ketika berbuka puasa. Ia berusaha dengan sangat hati-hati untuk tidak berbuka puasa, kecuali dengan memakan makanan halal.

 Seorang ulama Salaf berkata, Apabila engkau puasa, lihatlah makanan apa yang engkau makan ketika berbuka dan di tempat siapa engkau berbuka. Hal itu merupakan dorongan agar berhati-hati mengenai makanan untuk berbuka puasa. Begitu pula orang yang puasa harus menjaga semua anggota tubuhnya dari perbuatan yang tidak perlu. Dengan itu puasanya menjadi Sempurna dan Bersih. Banyak orang yang puasa memayahkan dirinya dengan lapar dan haus, namun ha biarkan anggota tubuhnya berbuat maksiat sehingga merusakkan puasanya dan menyia-nyiakan kepayahannya. Nabi SAW bersabda, “Banyak orang yang puasa tetapi puasanya hanya menghasilkan lapar dan haus.”

Meninggalkan maksiat adalah wajib untuk selamanya atas orang yang puasa maupun yang tidak puasa. Akan tetapi orang yang puasa lebih utama untuk berhati-hati dan lebih wajib. Nabi SAW bersabda, “Puasa itu perisai. Maka paha hari kamu berpuasa, jangalah ia berkata keji dan jangan berbuat kefasikan serta jangan mengganggu orang lain. Jika ada orang memakinya atau memusuhinya, maka katakanlah, sesungguhnya aku puasa.

Termasuk adab orang yang puasa ialah tidak banyak tidur di siang hari dan tidak banyak makan di waktu malam. Hendaklah ia makan sekadarnya sehingga ia rasakan sentuhan lapar dan haus supaya jiwanya menjadi baik dan syahwatnya menjadi lemah serta hatinya menjadi terang. Itu rahasia puasa dan tujuannya.

Hendaklah orang yang puasa menjauhi kesejahteraan dan kesenangan syahwat serta kenikmatan yang banyak. Sedikit-dikitnya adalah kebiasaan bersenang-senang itu hanya sekali di bulan Ramadhan dan lainnya. Ini adalah sedikit-dikitnya yang patut. Akan tetapi latihan dan menjauhi keinginan nafsu menimbulkan pengaruh besar dalam menerangi hati dan secara khusus di tuntut di bulan Ramadhan.

Adapun orang -orang yang menjadikan bersenang-senang dan hidup mewah di bulan Ramadhan yang tidak biasa mereka lakukan di luar Ramadhan, maka hal itu merupakan tipu daya setan yang menipu mereka supaya mereka tidak merasakan keberkahan puasa mereka. Dan supaya tidak nampak pada mereka pengaruh nya berupa cahaya, mukaasyafat, sikap khusyu’ kepada Allah dan tunduk di hadapan Nya menikmati munjat dengan Nya dan pembacaan KitabNya serta Dzikir Nya.

Kebiasaan salaf -Rahimahumullah- adalah mengurangi kebiasaan dan kesenangan nafsu serta memperbanyak amal baik di bulan Ramadhan secara khusus, meskipun hal itu sudah di kenal dari perilaku mereka dalam seluruh waktu.

Termasuk adabnya pula, ialah tidak terlalu banyak mengurusi dunia di bulan Ramadhan, tetapi mengkhususkan diri untuk beribadah kepada Allah dan menyebut Nama Nya sedapat mungkin. Janganlah ia mengurusi dunia kecuali bila sangat mendesak bagi kebutuhannya atau anak-anak yang wajib di urusinya. Hal itu di sebabkan bulan Ramdhan di antara bulan-bulan lain seperti kedudukan Jum’at di antara hari-hari. Oleh karena itu orang mu’min harus menjadikan hari Jum’at dan bulannya ini untuk akhiratnya.

Termasuk sunnah adalah menyegerakan buka puasa dan berbuka dengan kurma. Jika tidak menemukannya, maka ia berbuka dengan air. Adalah Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam berbuka sebelum shalat Magrib. Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam bersabda, “Umatku selalu dalam kebaikan selama menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur.” Maka mengakhirkan sahur adalah sunnah pula.

Orang yang puasa hendaknya makan sedikit. Hal itu di maksudkan supaya nampak pengaruh puasa padanya dan ia pun bisa mendapat hikmah nya dan mencapai tujuannya, yaitu mendidik nafsu dan melemahkan keinginannya. Karena rasa lapar dan kekosongan perut, berpengaruh besar dalam menerangi hati dan kekuatan anggota badan dalam beribadah, sedangkan kekenyangan adalah penyebab kekerasan hati dan kelalaian serta kemalasan untuk melakukan ketaatan.

Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika ia tidak bisa menghindarinya, maka sepertiga perut itu untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.”

Seorang Arif berkata, “Apabila perut menjadi kenyang maka semua anggota tubuh menjadi lapar. Dan apabila perut menjadi lapar, maka semua anggota tubuh menjadi kenyang.”

Dianjurkan dengan sangat memberi makan orang-orang yang puasa, walaupun hanya beberapa butir kurma atau seteguk air. Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa memberi makan orang puasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang puasa itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” Pahala ini bisa di peroleh orang yang memberi makan buka puasa, walaupun hanya air. Adapun orang yang memberi makan orang puasa sesudah berbuka puasa di rumahnya atau di tempat lain, maka ia tidak mendapat pahala ini. Tetapi mendapat pahala memberi makan, dan pahalanya besar. Bagaimanapun juga memberi makan orang yang puasa hingga kenyang adalah perbuatan yang mendapat banyak pahala.

Wallahu A’laam…

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk mencapai kemudahan dan menjauhkan kita dari segala kesulitan serta mengampuni dosa-dosa kita di akhirat dan dunia bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang besar derajat dan kedudukannya di sisi Allah dan Rasul-Nya.

(Di Kutip Dari Kitab Nashaaihud-Diniyyah wal Washaayal-Imaaniyyah, Karya Habib Abdullah Bin Alwi Al Haddad)
Ramadhan adalah bulan yang paling utama. Allah mewajibkan puasa di bulan itu atas kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman : ” Hai orang-orang yang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(Al Baqarah 183)

Di dalam bulan Ramadhan Allah menurunkan Kitab-Nya dan menjadikan salah satu malamnya sebagai Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan dan seribu bulan lebih banyak dari 83 tahun. Maka renungkanlah dalam dirimu malam apakah ini yang di sisi Allah lebih baik dan lebih utama daripada masa yang panjang ini. Allah Ta’alaa Berfirman : “Bulan Ramadhan, yaitu bulan yang di dalamnya di turunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Al Baqarah 185). Kemudian Allah SWT menurunkan Surah Al Qadr.





ILMU MENJADI KAYA
3 JURUS Ampuh Menghasilkan UANG MELIMPAH Dari Internet. Ayo Segera Miliki ILMU MENJADI KAYA ini.




RAHASIA JADI JUTAWAN
Mau Jadi Penulis BestSeller + Income 5 Jt/Bln? Ayo Gabung di Penulis Sukses MIQRA INDONESIA


INSPIRASI SUKSES
Ubah Nasib Anda Sekarang Menjadi Pribadi SUKSES dan TANGGUH dengan Cara Gabung Bersama GROUP MIQRA INDONESIA


Maka Allah SWT memberitahu kita bahwa Dia menurunkan Al Qur’an di bulan Ramadhan dan di malam Qadar secara khusus. Penurunan ini berasal dari Al Lauhil Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit terdekat. Al Qur’an turun sekaligus dari Al Lauh ke Baitul Izzah dan di turunkan oleh Jibril dengan perintah Allah kepada Rasul Nya secara berangsur-angsur selama kira-kira 23 tahun. Itu adalah masa turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW, karena Allah mulai menurunkan wahyu kepadanya ketika Beliau berumur 40 tahun dan wafat pada usia 63 tahun. Demikianlah yang di katakan oleh para peneliti dari ulama salaf dan khalaf.

Rasulullah Saw bersabda mengenai keutamaan bulan Ramadhan, “Bulan Ramadhan hingga Ramadhan, hari jum’at hingga jum’at dan shalat yang satu hingga shalat yang lain adalah menghapus dosa-dosa di antara semua itu apabila dosa-dosa besar di jauhi.”

Ramadhan adalah bulan kesabaran dan pahala kesabaran adalah surga. Nabi SAW Bersabda, “Permulaannya adalah rahmat, tengahnya adalah ampunan dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” Dan Allah Ta’ala pada malam pertama darinya melihat kepada kaum muslimin dan siapa yang Allah melihat kepadanya, maka Dia tidak menyiksanya dan Dia mengampuni mereka pada malamnya yang terakhir.

Jibril A.s berkata kepada Rasulullah SAW, “Barangsiapa mendapati Ramadhan, namun dosanya tidak di ampuni, semoga Allah menjauhkannya. Katakanlah, Amin. Maka Rasulullah SAW menjawab Amin. Hal tersebut di sebabkan kemudahan sebab-sebab ampunan di bulan Ramadhan lebih banyak daripada di bulan-bulan lainnya.

Ampunan di bulan itu di haramkan karena keberpalingannya dari Allah menjadi besar dan begitu pula keberaniannya terhadap Allah hingga menyebabkan kejauhan dan pengusiran dari pintu Rahmat Allah. Kita mohon kepada Allah kesalamatan dari murka dan siksa Nya serta semua cobaan Nya.

Telah di riwayatkan bahwa pintu-pintu langit dan pintu syurga di buka semuanya di bulan Ramadhan, sedangkan pintu-pintu neraka di tutup dan setan-setan pembangkang di ikat dan mereka di buang ke laut supaya tidak merusak puasa dan shalat kaum muslimin.

Malaikat berseru setiap malam di bulan Ramadhan, “Hai pencari kebaikan, datanglah. Hai pencari kejelekan, berhentilah.” Di riwayatkan pula bahwa siapa yang mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan dengan amalan fardlu, maka amalan itu menyamai 70 amalan fardlu di bulan lainnya. Dan siapa yang mendekatkan diri di bulan itu dengan amalan nafilah, maka amalan itu menyamai amalan-amalan fardu yang di lakukannya di bulan lain dari segi pahalanya, sedangkan amalan-amalan fardunya di beri pahala berlipat kali hingga 70 kali daripada amalan fardu di bulan lainnya.

Nabi SAW Bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan mengerjakan shalat malam di bulan itu dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka di ampunilah dosanya yang terdahulu.”

ADAB-ADAB AGAR PUASA RAMADHAN MENJADI SEMPURNA
Orang yang puasa mempunyai adab-adab yang puasanya tidak menjadi sempurna, kecuali dengan adanya adab-adab itu. Yang terpenting darinya ialah menjaga lidahnya dari dusta dan ghibah serta membicarakan sesuatu yang tidak perlu baginya. Ia Jaga kedua mata dan telinganya dari mendengarkan dan memandang sesuatu yang tidak halal baginya serta sesuatu yang di anggap berlebihan. Begitu pula ia jaga dirinya dari memakan makanan haram dan syubhat, khususnya ketika berbuka puasa. Ia berusaha dengan sangat hati-hati untuk tidak berbuka puasa, kecuali dengan memakan makanan halal.

 Seorang ulama Salaf berkata, Apabila engkau puasa, lihatlah makanan apa yang engkau makan ketika berbuka dan di tempat siapa engkau berbuka. Hal itu merupakan dorongan agar berhati-hati mengenai makanan untuk berbuka puasa. Begitu pula orang yang puasa harus menjaga semua anggota tubuhnya dari perbuatan yang tidak perlu. Dengan itu puasanya menjadi Sempurna dan Bersih. Banyak orang yang puasa memayahkan dirinya dengan lapar dan haus, namun ha biarkan anggota tubuhnya berbuat maksiat sehingga merusakkan puasanya dan menyia-nyiakan kepayahannya. Nabi SAW bersabda, “Banyak orang yang puasa tetapi puasanya hanya menghasilkan lapar dan haus.”

Meninggalkan maksiat adalah wajib untuk selamanya atas orang yang puasa maupun yang tidak puasa. Akan tetapi orang yang puasa lebih utama untuk berhati-hati dan lebih wajib. Nabi SAW bersabda, “Puasa itu perisai. Maka paha hari kamu berpuasa, jangalah ia berkata keji dan jangan berbuat kefasikan serta jangan mengganggu orang lain. Jika ada orang memakinya atau memusuhinya, maka katakanlah, sesungguhnya aku puasa.

Termasuk adab orang yang puasa ialah tidak banyak tidur di siang hari dan tidak banyak makan di waktu malam. Hendaklah ia makan sekadarnya sehingga ia rasakan sentuhan lapar dan haus supaya jiwanya menjadi baik dan syahwatnya menjadi lemah serta hatinya menjadi terang. Itu rahasia puasa dan tujuannya.

Hendaklah orang yang puasa menjauhi kesejahteraan dan kesenangan syahwat serta kenikmatan yang banyak. Sedikit-dikitnya adalah kebiasaan bersenang-senang itu hanya sekali di bulan Ramadhan dan lainnya. Ini adalah sedikit-dikitnya yang patut. Akan tetapi latihan dan menjauhi keinginan nafsu menimbulkan pengaruh besar dalam menerangi hati dan secara khusus di tuntut di bulan Ramadhan.

Adapun orang -orang yang menjadikan bersenang-senang dan hidup mewah di bulan Ramadhan yang tidak biasa mereka lakukan di luar Ramadhan, maka hal itu merupakan tipu daya setan yang menipu mereka supaya mereka tidak merasakan keberkahan puasa mereka. Dan supaya tidak nampak pada mereka pengaruh nya berupa cahaya, mukaasyafat, sikap khusyu’ kepada Allah dan tunduk di hadapan Nya menikmati munjat dengan Nya dan pembacaan KitabNya serta Dzikir Nya.

Kebiasaan salaf -Rahimahumullah- adalah mengurangi kebiasaan dan kesenangan nafsu serta memperbanyak amal baik di bulan Ramadhan secara khusus, meskipun hal itu sudah di kenal dari perilaku mereka dalam seluruh waktu.

Termasuk adabnya pula, ialah tidak terlalu banyak mengurusi dunia di bulan Ramadhan, tetapi mengkhususkan diri untuk beribadah kepada Allah dan menyebut Nama Nya sedapat mungkin. Janganlah ia mengurusi dunia kecuali bila sangat mendesak bagi kebutuhannya atau anak-anak yang wajib di urusinya. Hal itu di sebabkan bulan Ramdhan di antara bulan-bulan lain seperti kedudukan Jum’at di antara hari-hari. Oleh karena itu orang mu’min harus menjadikan hari Jum’at dan bulannya ini untuk akhiratnya.

Termasuk sunnah adalah menyegerakan buka puasa dan berbuka dengan kurma. Jika tidak menemukannya, maka ia berbuka dengan air. Adalah Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam berbuka sebelum shalat Magrib. Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam bersabda, “Umatku selalu dalam kebaikan selama menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur.” Maka mengakhirkan sahur adalah sunnah pula.

Orang yang puasa hendaknya makan sedikit. Hal itu di maksudkan supaya nampak pengaruh puasa padanya dan ia pun bisa mendapat hikmah nya dan mencapai tujuannya, yaitu mendidik nafsu dan melemahkan keinginannya. Karena rasa lapar dan kekosongan perut, berpengaruh besar dalam menerangi hati dan kekuatan anggota badan dalam beribadah, sedangkan kekenyangan adalah penyebab kekerasan hati dan kelalaian serta kemalasan untuk melakukan ketaatan.

Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika ia tidak bisa menghindarinya, maka sepertiga perut itu untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.”

Seorang Arif berkata, “Apabila perut menjadi kenyang maka semua anggota tubuh menjadi lapar. Dan apabila perut menjadi lapar, maka semua anggota tubuh menjadi kenyang.”

Dianjurkan dengan sangat memberi makan orang-orang yang puasa, walaupun hanya beberapa butir kurma atau seteguk air. Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa memberi makan orang puasa, maka ia mendapat pahala seperti orang yang puasa itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” Pahala ini bisa di peroleh orang yang memberi makan buka puasa, walaupun hanya air. Adapun orang yang memberi makan orang puasa sesudah berbuka puasa di rumahnya atau di tempat lain, maka ia tidak mendapat pahala ini. Tetapi mendapat pahala memberi makan, dan pahalanya besar. Bagaimanapun juga memberi makan orang yang puasa hingga kenyang adalah perbuatan yang mendapat banyak pahala.

Wallahu A’laam…

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk mencapai kemudahan dan menjauhkan kita dari segala kesulitan serta mengampuni dosa-dosa kita di akhirat dan dunia bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang besar derajat dan kedudukannya di sisi Allah dan Rasul-Nya.

(Di Kutip Dari Kitab Nashaaihud-Diniyyah wal Washaayal-Imaaniyyah, Karya Habib Abdullah Bin Alwi Al Haddad)
Bahasa Perumpamaan
Lihat Detail

Bahasa Perumpamaan


Bahasa Perumpamaan
Oleh : Arda Dinata




Bahasa diartikan sebagai lambang (bunyi bahasa) yang dipakai manusia untuk melahirkan pikiran dan perasaan. Atau bisa juga merupakan perkataan-perkataan yang dipakai oleh suku bangsa, negara, daerah, dan lainnya. Sedangkan perumpamaan berarti ibarat, amsal, persamaan (perbandingan), atau peribahasa. Jadi, bahasa perumpamaan itu adalah bahasa berupa ibarat, amsal, perbandingan, atau peribahasa yang digunakan untuk melahirkan pikiran/ perasaan tentang sesuatu hal.


Dalam Al-Quran banyak kita temui ayat-ayat yang menggunakan gaya bahasa perumpamaan. Baik yang menyangkut peringatan, kabar gembira maupun sindiran terhadap manusia. Bahasa perumpamaan itu digunakan dalam Al-Quran, tidak lain agar manusia selalu ingat terhadap isi pesan yang disampaikan Allah SWT.
Biasa Ala Orang yang Diamanahi Jabatan
Lihat Detail

Biasa Ala Orang yang Diamanahi Jabatan

Biasa Ala Orang yang Diamanahi Jabatan
Oleh Arda Dinata

Jabatan diartikan sebagai pekerjaan (tugas) dalam pemerintahan atau organisasi. Orang yang memegang jabatan penting itu, dinamakan pejabat/ penguasa. Di sini, orang yang diamanahi jabatan menjadi sesuatu yang potensial. Yakni bisa menjadi jalan kemulyaan, bila mampu menunaikan amanah (jabatan) itu sesuai tuntunan-Nya. Sebaliknya, menjadi bencana bila kita tidak mampu dan berhati-hati menjaga amanah itu.

Dalam pandangan KH Miftah Faridl, diantara sekian banyak penyakit yang paling berbahaya jika hinggap pada diri penguasa (baca: penjabat-Pen) adalah jika ia sudah merasa berkuasa. Jika seorang penguasa kemasukan nafsu ingin berkuasa dan mulai mengkuasai, tidak ada lagi kekuasaan lain yang diakui dan dipatuhinya, maka sikap ini tdak saja membahayakan kehidupan masyarakat dan negara, tapi juga mengancam perdamaian dunia. Pejabat seperti ini, jelas-jelas akan mendapatkan buah kerugian.

Untuk mencegah hal itu, setiap kita harus bisa memagari pejabat agar tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk mengembangbiakkan penyakit ini pada dirinya. Harus diciptakan sebuah sistem yang memungkinkan seorang penguasa tunduk pada hukum-hukum Allah dan Rasulnya. Sikap demikian, tentunya akan lahir dari seorang pejabat yang benar-benar memfungsikan amanah itu sesuai dengan ketentuan-Nya. Inilah sikap biasa ala orang yang diamanahi jabatan.
Empat Sikap Pribadi Pantang Menyerah
Lihat Detail

Empat Sikap Pribadi Pantang Menyerah

 Empat Sikap Pribadi Pantang Menyerah
 Oleh Arda Dinata


Alam dan isinya ini tercipta secara berpasangsan, sehingga melahirkan hukum tarik menarik. Artinya konsisi alam ini akan selalu dinamis dengan kehendak-Nya. Begitupun dengan menjalankan bisnis, pasti ada yang namanya naik-turun. untuk itu, kita harus jadi pribadi yang pantang menyerah.

Pribadi pantang menyerah (tangguh) adalah pribadi yang tidak merasa lemah terhadap sesuatu yang terjadi dan menimpanya. Pribadinya mengangap sesuatu yang terjadi itu dari segi positifnya.

seseorang menjadi kuat, pada dasarnya karena mentalnya kuat. seseorang menjadi lemah, karena mentalnya lemah. Begitu juga, seseorang sukses, karena ia memiliki keinginan sukses. Dan seseorang gagal, karena ia berbuat gagal. Dalam hal ini, bila kita ingin SUKSES DI DYNASIS, maka caranya tidak lain dalam diri kita harus yakin bahwa bisnis di DYNASIS ini adalah jalan yang harus kita lakukan secara maksimal mungkin. Yakni bekerja secara cermat, tepat dan benar dalam mengembangkan bisnis ini. Inilah sebuah bisnis yang menurut saya adalah BISNIS POHON PAHALA. Artinya semakin pohon itu berkembang, maka akar-akarnya makin kuat dan memiliki cabang yang banyak sehingga memberikan perlindungan pada orang yang ada di sekitarnya. Bisnis Dynasispun, sama. Bisnis ini jelas-jelas mengandalakan (bonus terbesarnya) dari kebesaran pohon jaringannya. INILAH YANG HARUS KITA LAKUKAN.